
Ekonomi Pembangunan
Analisis Perkembangan Ekonomi
Kabupaten Bengkayang Tahun 2010
1. Struktur Perekonomian
Analisis ekonomi regional dalam upaya perencanaan pembangunan memiliki peran yang sangat penting dan strategis. Analisis ekonomi regional tidak hanya membahas mengenai kegiatan perekonomian ditinjau dari sudut persebaran kegiatan ekonomi ke berbagai lokasi dalam suatu ruang ekonomi tertentu, tetapi juga menganalisa ekonomi daerah ditinjau secara sektoral dan secara makro. Analisis ekonomi regional membahas berbagai corak dan permasalahan pembangunan di daerah sehingga diharapkan bermanfaat bagi perencanaan pembangunan di masa mendatang. Perkembangan ekonomi di Kabupaten Bengkayang tidak bisa terlepas dari perkembangan ekonomi nasional maupun Kalimantan Barat. Adanya kasus subprime morgage di Amerika pada akhir tahun 2007 membawa dampak krisis ekonomi global yang pada akhirnya berpengaruh pada lesunya perekonomian Indonesia. Pembukaan perdagangan bebas dengan Cina juga berpengaruh terhadap perekonomian di Indonesia. Isu lain yang mulai berdampak pada perekonomian Indonesia adalah adanya isu pemanasan global (global warming) yang semakin menyerang sektor pertanian khususnya yang masih bergantung pada kondisi alam. Tentu saja seluruh isu ekonomi tersebut juga berdampak pada perekonomian di Kabupaten
Bengkayang baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengembangan ekonomi kewilayahan di Kabupaten Bengkayang juga tidak terlepas dari masterplan pengembangan ekonomi Kalimantan Barat dan Indonesia secara umum. Dengan adanya posisi Kabupaten Bengkayang yang berbatasan langsung dengan Serawak‐Malaysia Timur dan penetapan Jagoi Babang sebagai salah satu gerbang pintu masuk antar negara sesuai dengan kesepakatan SOSEKMALINDO, menjadikan Kabupaten Bengkayang sebagai salah satu kabupaten yang memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi Kalimantan Barat. Wilayah Kabupaten Bengkayang yang terdiri dari darat dan laut menjadikan potensi ekonomi yang dimiliki lebih beragam. Selain itu, kondisi alam yang mendukung untuk pengembangan sektor pertanian menjadikan Kabupaten Bengkayang semakin penting dalam perekonomian Kalimantan Barat. Oleh karena itu, potensi ekonomi yang ada perlu dikaji sebagai salah satu upaya mengoptimalkan perekonomian Kabupaten Bengkayang dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Struktur perekonomian suatu daerah dan perkembangannya dapat memberikan gambaran sektor ekonomi yang memberikan kontribusi relatif dominan dalam perekonomian. Perkembangan ekonomi suatu wilayah tidak terlepas dari wilayah lain yang ada di sekitarnya dimana wilayah tertentu menjadi pusat kegiatan ekonomi yang ada. Adanya pemusatan kegiatan ekonomi ini pada akhirnya berpengaruh pada tingkat pembangunan yang tidak merata di semua daerah (jika dipandang secara geografis) dan ini mendorong suatu daerah akan menjadi lebih maju dan daerah lain menjadi kurang maju. Adanya ketidakmerataan pembangunan ini salah satunya mendorong adanya perbedaan struktur ekonomi antar daerah. Oleh karena itu, struktur perekonomian daerah biasa diidentikkan dengan kemajuan perekonomian daerah tersebut. Suatu daerah dengan struktur perekonomian yang dominan di sektor industri dan jasa dianggap memiliki kondisi perekonomian yang lebih maju disbanding dengan daerah yang memiliki basis ekonomi pada sektor pertanian.
Dengan mengetahui struktur perekonomian suatu daerah, pola penyerapan tenaga kerja dan tingkat produktivitas tenaga kerja dalam perekonomian juga dapat dilihat. Teori ekonomi yang dikaitkan dengan penyerapan tenaga kerja dan tingkat produktivitas dalam struktur ekonomi banyak dijelaskan oleh tokoh ekonomi aliran Neo Klasik dan salah satunya Teori Rostow (1961). Salah satu penjelasan keterkaitan antara produktivitas dan struktur ekonomi di suatu wilayah dijelaskan oleh Rostow adalah bahwa pada masyarakat tradisional tingkat produksi per kapita dan produktivitas per kapita rendah maka sebagian besar sumber daya masyarakat digunakan untuk kegiatan di sektor pertanian.
Sumber : BPS Kab. Bengkayang
Berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bengkayang tahun 2009 atas dasar harga berlaku, diketahui bahwa sektor penopang utama (leading sector) perekonomian Kabupaten Bengkayang adalah sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 47,27 persen. Dengan kata lain, sektor pertanian merupakan sektor unggulan di Kabupaten Bengkayang. Menurut Mawardi (1997), sektor unggulan diartikan sebagai sektor yang memiliki nilai tambah dan produksi yang besar, memiliki multipier effect yang besar terhadap perekonomian lain serta memiliki permintaan yang tinggi baik pasar lokal maupun pasar ekspor. Komoditi yang mendorong perkembangan sektor pertanian ini adalah komiditi tanaman bahan makanan dan tanaman perkebunan. Kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan pada tahun 2009 sebesar 27,95 persen sedangkan sub sektor perkebunan sebesar 13,32 persen. Komoditi tanaman bahan makanan yang menjadi andalan Kabupaten Bengkayang adalah padi dan jagung sedangkan komoditi tanaman perkebunan adalah karet dan kelapa sawit. Meskipun kontribusi sektor pertanian paling dominan dalam perekonomian, sayangnya penduduk miskin yang ada sebagian besar juga berada di sektor ini. Tingginya angka kemiskinan di sector pertanian ini salah satunya disebabkan karena masih rendahnya nilai tambah yang dihasilkan di sektor ini. Tren nilai tukar petani di Kalimantan Barat khususnya komoditi padi palawija juga terus mengalami penurunan sebagai akibat indeks harga yang diterima petani lebih rendah dibanding dengan indeks harga yang harus dibayarkan. Artinya bahwa ongkos produksi pada komoditi padi palawija lebih tinggi dibandingkan dengan hasil yang diterima oleh petani setelah panen. Sedangkan nilai tukar petani pada komoditi tanaman perkebunan masih lebih baik karena indeks harga yang diterima masih lebih tinggi daripada indeks harga yang harus dibayarkan.
Adanya isu pemanasan global (global warming) menjadikan perubahan pola musim tanam yang tidak menentu juga semakin merugikan petani mengingat sektor pertanian di Kabupaten Bengkayang masih sangat bergantung pada kondisi iklim dan curah hujan yang ada. Pada akhirnya, kondisi ini semakin menjadikan pekerja di sektor pertanian semakin miskin. Sangat disayangkan kondisi pada sektor pertanian ini sehingga perlu intervensi pemerintah dalam penanganan sektor ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah peningkatan pemanfaatan teknologi tepat guna di sektor pertanian ini guna meningkatkan produktivitas yang ada yang pada akhirnya meningkatkan nilai tambah di sektor ini. Di sisi lain, pemerintah berperan menjaga stabilitas harga hasil pertanian sehingga petani menerima hasil yang memadai dari kerja kerasnya.
Sektor kedua yang cukup dominan dalam perekonomian Kabupaten Bengkayang adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dimana peranan sektor ini mencapai 25,57 persen. Adanya dominasi sektor perdagangan ini salah satunya disebabkan karena produksi hasil pertanian yang cukup tinggi dan juga posisi strategis Kabupaten Bengkayang yang mendorong adanya transaksi perdagangan yang terjadi. Berbeda dengan sektor pertanian dan sektor perdagangan, sektor industri pengolahan di Kabupaten Bengkayang cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penopang sektor ini salah satunya adalah industri kerajinan rumah tangga yang berkembang di tiga kecamatan yang berada di kawasan perbatasan, yaitu: Kecamatan Seluas, Kecamatan Jagoi Babang, dan Kecamatan Siding. Industri yang dikembangkan adalah industri kerajinan bidai yang berbahan dasar rotan dan dipasarkan baik untuk konsumsi dalam negeri maupun luar negeri. Penurunan sektor ini terutama disebabkan karena kurangnya ketersediaan bahan baku karena semakin langka atau sulit diperoleh sehingga industri ini semakin berkurang dari tahun ke tahun. Sektor lain yang cukup besar peranannya dalam perekonomian Kabupaten Bengkayang adalah sektor jasa dan sektor bangunan. Sektor jasa digerakkan oleh jasa pemerintahan sedangkan sector bangunan digerakkan oleh pengembangan infrastruktur dalam bentuk pembangunan jalan, jembatan, saluran irigasi, dan pembangunan perumahan. Sektor bangunan yang sebagian digerakkan oleh pengembangan infrastruktur berperan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat mengingat dengan adanya infrastruktur yang baik maka transaksi pasar akan berjalan dengan lancar. Selain itu, input ekonomi menjadi lebih produktif seperti peningkatan skala ekonomi (economies of scale) produksi dan eksternalitas pada konsumsi. Hal lain yang penting dengan adanya pembangunan infrastruktur adalah meningkatnya iklim investasi di suatu wilayah. Berdasarkan Grafik Perkembangan Struktur Perekonomian Kabupaten Bengkayang Tahun 2005‐2009 dapat dilihat bahwa tren struktur ekonomi Kabupaten Bengkayang selama kurun waktu 2005 ‐ 2009 tidak terjadi perubahan yang mendasar.
2. Laju Pertumbuhan ekonomi
Laju pertumbuhan ekonomi merupakan suatu indicator ekonomi makro yang menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan oleh berbagai sektor ekonomi. Indikator ini biasanya digunakan untuk menilai dan mengukur tingkat keberhasilan pembangunan suatu daerah dalam periode waktu tertentu. Laju pertumbuhan ekonomi dapat dihitung berdasarkan data PDRB atas dasar harga konstan. Untuk berbagai keperluan analisis, PDRB harga konstan sering digunakan karena pengaruh naik turunnya harga terhadap nilai PDRB telah dieliminasi atau dengan kata lain, telah ditiadakan. Pertumbuhan ekonomi yang positif menunjukkan adanya peningkatan perekonomian yang semakin baik. Namun sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang negatif menunjukkan adanya kemunduran perekonomian. Selama tahun 2005‐2009, laju pertumbuhan perekonomian Kabupaten Bengkayang yang didasarkan pada perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 selalu mengalami peningkatan meskipun tidak terlalu tinggi. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bengkayang tahun 2009 tercatat adalah sebesar 4,5 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2008 yang sebesar 5,57 persen. Ini berarti bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 lebih lambat jika dibandingkan dengan tahun 2008.
Adanya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi ini seiring dengan adanya krisis ekonomi global yang berimbas pada perekonomian Indonesia. Hal lain yang mendorong adanya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi selama tahun 2009 adalah adanya penurunan produksi pertanian yang merupakan leading sector di Kabupaten Bengkayang. Penurunan produktivitas di sector pertanian juga disebabkan karena perubahan kondisi iklim yang tidak menentu yang berakibat mundurnya musim tanam dan pada akhirnya menurunkan angka produksi pertanian khususnya untuk komoditi tanaman bahan makanan. Secara umum, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bengkayang terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Apabila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat maka laju pertumbuhan Kabupaten Bengkayang pada tahun 2009 relatif lebih rendah dimana laju pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat sebesar 4,76 persen. Apabila dilihat menurut sektornya maka sektor perekonomian yang laju pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya adalah sektor pertambangan dan penggalian, sektor listrik dan air, sektor bangunan, sektor angkutan dan komunikasi, serta sektor jasa. Sektor pertanian seperti dijelaskan diatas mengalami penurunan yang cukup signifikan, sedangkan sektor perdagangan, sector keuangan, dan sektor industri pengolahan sedikit mengalami penurunan.
3. Pendapatan Perkapita
Tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah dapat dilihat dari besaran PDRB per kapita yang menggambarkan pendapatan yang diterima oleh masing‐masing penduduk atas keikutsertaannya dalam proses produksi. Berdasarkan data tersebut, dapat dibandingkan tingkat kemakmuran suatu daerah dengan daerah yang lain. Apabila data ini disajikan secara berkala maka akan dapat menunjukkan perubahan tingkat kemakmuran suatu penduduk daerah.
Pada tahun 2009, PDRB per kapita Kabupaten bengkayang atas dasar harga berlaku adalah sebesar 10.223.478,67 rupiah. Ini berarti bahwa rata‐rata pendapatan setiap orang di Kabupaten Bengkayang selama tahun 2009 adalah sebesar 10.223.478,67 rupiah. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya maka terlihat bahwa terjadi peningkatan PDRB per kapita tahun 2009 sebesar 9,22 persen dari nilai PDRB per kapita pada tahun 2008 yang hanya sebesar 9.360.064,93 rupiah. Namun demikian, karena konsep yang digunakan adalah rata‐rata, PDRB per kapita belum dapat mencerminkan distribusi pendapatan yang ada. Untuk itu, perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam untuk melihat distribusi pendapatan yang ada. Salah satu metode yang dikenal untuk melihat distribusi pendapatan adalah dengan menggunakan Kurva Lorenz dan Indeks Gini (Gini Ratio).
4. Keterbandingan Antar Wilayah
Untuk mengetahui perkembangan kondisi perekonomian, perlu dilakukan perbandingan antar wilayah yang dalam hal ini, dilakukan antar kabupaten/kota di Provinsi Kalimantan Barat. Perbandingan antar wilayah ini dilakukan untuk melihat efek spasial pertumbuhan ekonomi yang terjadi. Adapun keterbandingan antar wilayah dapat dilihat dengan menggunakan location quotient (LQ), analisis Klassen Typology, dan Indeks Williamson.
a). Location Quotient (LQ)
Location quotient (LQ) adalah suatu perbandingan antara besarnya peranan suatu sektor di suatu daerah terhadap peranan sektor tersebut secara nasional. Istilah wilayah nasional dapat diartikan sebagai wilayah induk atau atasan. Karena yang diperbandingkan adalah antar wilayah kabupaten/kota, yang berperan sebagai wilayah nasional adalah provinsi.
- LQ > 1 berarti bahwa peranan sektor tertentu di suatu daerah bawahan lebih menonjol daripada sektor tersebut dalam daerah atasannya
- LQ < 1 berarti bahwa peranan sektor tertentu di suatu daerah bawahan kurang menonjol daripada peranan sektor tersebut dalam daerah atasannya
- LQ = 1 berarti bahwa peranan sektor tertentu di suatu daerah bawahan sama dengan peranan sektor tersebut dalam daerah atasannya
![]()
Sektor unggulan yang dianggap sebagai sektor potensial yang ada di Kabupaten Bengkayang selama tahun 2005‐2009 adalah sector pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, dan sector perdagangan, hotel, dan restoran. Hal ini menunjukkan bahwa arah dan pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Bengkayang ditentukan oleh pertumbuhan dari sektor pertanian, sector pertambangan dan penggalian, serta sektor perdagangan, hotel, dan restoran. Selama tahun 2005‐2009, nilai LQ pada sektor pertanian cenderung meningkat dari tahun ke tahun sedangkan dua sector yang lain cukup berfluktuatif. Ketiga sektor ini dinilai cukup beralasan apabila menjadi sector unggulan di Kabupaten Bengkayang. Pada sektor pertanian, peningkatan produksi tanaman bahan makanan maupun produksi tanaman perkebunan menjadikan sektor ini menjadi sektor yang dapat diandalkan. Jenis komoditi yang cukup penting di sector pertanian adalah padi, jagung, dan perkebunan kelapa sawit yang semakin ditingkatkan produksinya. Sektor pertambangan dan penggalian menjadi potensi di Kabupaten Bengkayang mengingat salah satu produksi bahan galian yang cukup penting berada di wilayah Kabupaten Bangkayang, yaitu jenis kaolin dan bahan tambang yang diusahakan adalah emas. Selanjutnya, sector perdagangan, hotel, dan restoran memiliki potensi yang cukup baik di Kabupaten Bengkayang sebagai akibat dari letak strategis Kabupaten Bengkayang yang berada di kawasan perbatasan. Berdasarkan data PDRB per kecamatan tahun 2006 (hasil Sensus Ekonomi 2006) kecamatan yang memiliki peran strategis di Kabupaten Bengkayang adalah Kecamatan Bengkayang, Kecamatan Sungai Raya, dan Kecamatan Sanggau Ledo. Kontribusi perekonomian Kecamatan Bengkayang terhadap total perekonomian Kabupaten Bengkayang adalah sebesar 26,32 persen, Kecamatan Sungai Raya sebesar 16,21 persen (Kecamatan Sungai Raya masih bergabung dengan Kecamatan Sungai Raya Kepualauan), dan Kecamatan Sanggau Ledo sebesar 10,53 persen (Kecamatan Sanggau Ledo masih bergabung dengan Kecamatan Tujuh Belas). Sektor pertanian menonjol di Kecamatan Sanggau Ledo dan Kecamatan Sungai Raya sedangkan sector perdagangan menonjol di Kecamatan Bengkayang dan Kecamatan Sungai Raya. Spesifikasi keunggulan kecamatan ini perlu terus dipantau dalam rangka mengoptimalkan sektor unggulan yang dikembangkan di masing‐masing kecamatan. Perlunya analisis lebih mendalam untuk melihat sektor unggulan ini dengan melakukan penyusunan dan memantau indikator ekonomi melalui perkembangan PDRB kecamatan.
b). Analisis Klassen Typology
Analisis ini digunakan untuk melihat kesenjangan klasifikasi kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Indikator yang digunakan dalam analisis ini adalah pertumbuhan ekonomi dan kontribusi sektoral terhadap PDRB setiap kabupaten/kota pada periode waktu tertentu. Menurut Sjafrizal (1997) dengan analisis klassen typology, diperoleh empat klasifikasi daerah yang memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:
- Kuadran I adalah daerah maju dan cepat tumbuh (high growth and high income). Daerah ini memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih tinggi dibandingkan rata‐rata kabupaten/kota.
- Kuadran II adalah daerah yang berkembang cepat (high growthbbut low income). Daerah ini memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi tetapi pendapatan per kapitanya di bawah rata‐rata kabupaten/kota.
- Kuadran III adalah daerah yang relatif tertinggal (low growth and low income). Daerah ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita yang lebih rendah daripada rata‐rata kabupaten/kota.
- Kuadran IV adalah daerah maju tetapi tertekan (low growth but high income). Daerah ini memiliki pertumbuhan ekonomi rendah tetapi pendapatan per kapita lebih tinggi daripada rata‐rata kabupaten/kota.
Berdasarkan data PDRB 2009 dengan menggunakan analisis klassen typology, ditunjukkan bahwa Kabupaten Bengkayang masuk dalam kuadran II. Ini berarti bahwa Kabupaten Bengkayang merupakan kabupaten yang memiliki perkembangan yang cukup pesat mengingat pertumbuhan ekonominya berada di atas rata‐rata kabupaten/kota namun pendapatan per kapitanya masih di bawah rata‐rata pendapatan per kapita kabupaten/kota. Perencanaan pembangunan yang tepat di masa mendatang yang didukung dengan posisi strategis Kabupaten Bengkayang dan sumber daya (resources) yang dimiliki akan mendorong kemajuan perekonomian dimasa mendatang yang bermuara pada percepatan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
![]()
![]()
c). Indeks Williamson
Untuk melihat ukuran disparitas regional dengan tingkat pembangunan ekonomi, Jeffry G. Williamson (1965) membuat formulasi indeks ketimpangan regional yang dikenal dengan Indeks Williamson. Indeks Williamson besarnya antara nol dan satu. Semakin kecil angka yang dihasilkan menunjukkan ketimpangan yang semakin kecil atau dengan kata lain pembangunan ekonomi makin merata. Sebaliknya, jika angka yang didapatkan mendekati satu maka ketimpangan semakin lebar. Indeks Williamson diformulasikan sebagai berikut:
![]()
Selama kurun waktu tahun 2007‐2009, besarnya nilai Indeks Williamson di Kalimantan Barat relatif tidak berubah yaitu antara 0,37 sampai 0,38. Dapat diartikan bahwa ketimpangan pembangunan ekonomi di wilayah Kalimantan Barat selama kurun waktu tiga tahun terakhir masih relatif kecil.
![]()
5. Perkembangan Ekonomi Sektoral
Kabupaten Bengkayang dengan luas wilayah sebesar 5.396,3 km2 memiliki berbagai potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan. Posisi strategis, kondisi lingkungan sosial budaya yang mendukung, serta potensi alam yang beragam menjadikan Kabupaten Bengkayang kaya akan berbagai sumberdaya alam yang dapat dikembangkan sehingga dimasa mendatang Kabupaten Bengkayang diharapkan mampu untuk menjadi sentra ekonomi barudi Provinsi Kalimantan Barat. Sektor pertanian dan sector perdagangan (sesuai dengan struktur perekonomian) jelas menjadi andalan dan perlu terus dikembangkan di Kabupaten Bengkayang. Namun demikian, untuk melihat berbagai potensi lain yang ada, dalam upaya pembangunan ekonomi, berikut akan diuraikan berbagai potensi menurut sektor yang ada.
a). Sektor Pertanian
Sektor pertanian sampai dengan tahun 2009 masih menjadi penopang utama perekonomian di Kabupaten Bengkayang dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kontribusi sector pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Bengkayang pada tahun 2000 sebesar 36,76 persen dan pada tahun 2009 menjadi sebesar 47,27 persen. Penyerapan tenaga kerja pada sektor ini pada tahun 2008 sebesar 67,05 persen. Pertumbuhan sektor pertanian salah satunya dipengaruhi oleh optimalisasi penggunaan lahan yang ada. Berdasarkan data tahun 2009, luas lahan yang digunakan untuk lahan pertanian sebesar 64,02 persen (sebesar 6,98 persen adalah lahan sawah dan sebesar 57,04 persen adalah lahan bukan sawah). Dibandingkan dengan tahun 2008, maka luas lahan sawah justru turun sebesar 0,33 persen. Jenis lahan sawah yang paling banyak diusahakan di Kabupaten Bengkayang adalah jenis sawah tadah hujan dimana persentase luas lahan sawah tadah hujan pada tahun 2009 mencapai 4,10 persen dari total luas Kabupaten Bengkayang atau sekitar 58,77 persen dari total lahan sawah yang ada di Kabupaten Bengkayang. Besarnya luas lahan sawah tadah hujan ini menunjukkan bahwa pertanian tanaman pangan khususnya untuk komoditi beras di Kabupaten Bengkayang masih sangat bergantung pada kondisi alam. Untuk itu perlu upaya lebih lanjut dalam rangka revitalisasi sektor pertanian ini khususnya pada komoditi beras dan salah satunya dengan peningkatan pembangunan sarana irigasi, sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan di Kabupaten Bengkayang di masa yang akan datang.
1). Tanaman Pangan
Sub sektor tanaman pangan memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Hal ini mengingat sebagian besar pengeluaran masyarakat Kabupaten Bengkayang digunakan untuk pemenuhan konsumsi pangan khususnya beras, jagung, dan umbiumbian. Berdasarkan data Susenas 2009, sekitar 62,29 persen pengeluaran penduduk Kabupaten Bengkayang digunakan untuk konsumsi makanan dan sekitar 14,54 persen digunakan untuk konsumsi padi‐padian. Persentase untuk konsumsi padi‐padian ini merupakan konsumsi terbesar untuk kelompok makanan.
![]()
Komoditi tanaman pangan memberikan andil yang cukup besar dalam perekonomian di Kabupaten Bengkayang. Pada tahun 2008, andil sub sektor tanaman pangan mencapai 26,67 persen terhadap total perekonomian Kabupaten Bengkayang. Penyediaan bahan pangan yang cukup (food security) menjadi salah satu tujuan utama pembangunan nasional. Program ketahanan pangan secara nasional menjadi salah satu agenda penting dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Mengingat arti pentingnya sub sector ini, pembangunan daerah yang dilaksanakan diharapkan berbasis pada penguatan sektor pertanian dan apabila dimasa yang akan datang arah pembangunan mengarah pada industrialisasi maka industri yang dikembangkan berbasis agrobisnis.
![]()
Produksi padi di Kabupaten Bengkayang pada tahun 2009 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) di Kabupaten Bengkayang yang turun sebesar 5,65 persen dibanding tahun sebelumnya. Meskipun pemanfaatan lahan sawah yang ada belum optimal, produktivitasnya sudah cukup baik. Pemanfaatan lahan yang belum optimal ini terlihat dari besarnya luas lahan sawah dengan jumlah penanaman lebih dari dua kali yang masih relatif kecil.
![]()
Komoditi tanaman pangan khususnya palawija yang paling menonjol di Kabupaten Bengkayang adalah tanaman jagung. Produksi jagung di Kabupaten Bengkayang adalah yang terbesar se Kalimantan Barat. Pada tahun 2009, sebesar 71,42 persen produksi jagung dipasok dari Kabupaten Bengkayang. Hal ini menunjukkan keberhasilan Kabupaten Bengkayang dalam hal budidaya jagung. Kecamatan yang produksi jagungnya besar adalah Kecamatan Sanggau Ledo, Kecamatan Seluas, Kecamatan Ledo, dan Kecamatan Lumar.
![]()
Indonesia
English 


